Kamis, 29 September 2011

Beasiswa S-1 Malaysia


Ancora dan Yayasan Khazanah Malaysia memberikan kesempatan beasiswa S-1 di Perguruan Tinggi ternama di Malaysia bagi siswa SMA sederajat Indonesia.

Beasiswa S1 ini mencakup biaya perkuliahan selama 4 tahun, tunjangan buku, tunjangan hidup, tiket pulang-pergi, serta tunjangan-tunjangan yang lain.


Keterangan lebih lanjut, persyaratan, serta prosedur pendaftaran dan penyeleksian, dapat dilihat dengan Klik Di sini 

Rabu, 28 September 2011

The Shift : Jalan Menuju Kemerdekaan Ekonomi






Oleh: Muhaimin Iqbal   


DALAM perjalanan ke Jogja dan Solo menemui sejumlah pengusaha muda di Jogja, mahasiswa-mahasiswa teknik industri UNS di Solo dan berkunjung ke pendiri Ma'had Tahfizhul Qur'an Isy Karima – dr. Tunjung S. Soeharso – saya ditemani sebuah buku dengan judul “The Shift:The Future of Work Is Already Here” (HarperCollins Publisher, London 2011).


Apa relevansi tiga kunjungan tersebut dengan isi buku ini ?. Saya seperti melihat aplikasi yang nyata dari isi buku yang di tulis oleh Lynda Gratton – seorang professor dalam bidang management practice – yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari ‘top 20 business thinkers of the world’ oleh the Times.


Menurut Prof. Lynda tersebut, ada tiga perubahan besar yang akan merubah cara-cara orang bekerja di masa depan yang kini sudah mulai terjadi.


Orang-orang yang unggul adalah yang bisa mendahului jamannya dalam beradaptasi terhadap perubahan-perubahan tersebut. Sebaliknya orang-orang yang gagal atau menjadi korban adalah mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan. Tiga perubahan besar tersebut adalah :

Pertama;  From Shallow Generalist To Serial Master



Bila selama beberapa dasawarsa terakhir orang-orang kebanyakan dengan pengetahuan yang luas namun tidak dalam sudah dapat survive atau bahkan unggul, kedepannya tidak lagi bisa demikian. Kompetisi akan semakin tajam, dan pengetahuan standar sudah menjadi milik publik yang bisa dikuasai oleh siapa saja.


Dengan dunia internet sekarang – Anda sudah dapat menguasai ilmu dalam segala bidang hanya dalam beberapa menit – namun orang lain juga bisa menguasai ilmu yang sama seperti yang Anda kuasai.


Maka untuk bisa survive dan unggul di masa yang akan datang, yang  dibutuhkan adalah keahlian yang mendalam dalam sejumlah bidang. Keahlian yang akumulatif yang akan memerlukan waktu bagi orang lain untuk mengejarnya, dan juga integrasi dari sejumlah bidang – untuk memperkecil peluang orang lain dapat mengkombinasikan bidang-bidang yang sama persis dengan yang Anda dalami.


Kedua; From Isolated Competitor To Innovative Connector


Di bidang apapun yang Anda terjuni – saat ini hampir pasti Anda akan jumpai pesaing Anda. Anda dan pesaing Anda akan bekerja habis-habisan untuk saling mengungguli satu sama lain – tetapi siapa yang nantinya akan diuntungkan?
Kemungkinannya bukan Anda dan juga bukan pesaing Anda, oleh karenanya mengapa tidak bersinergi saja?


Yang pasti diuntungkan di masa depan adalah pihak-pihak yang secara innovative bisa menggabungkan kekuatan-kekuatan Anda dan juga kekuatan-kekuatan yang ada di luar diri Anda.


Ketiga; From Voracious Consumer To Impassioned Producer


Masyarakat kebanyakan di dunia yang di dominasi oleh masyarakat pekerja, mereka adalah sasaran empuk bagi pemasar-pemasar produk consumers seperti aneka makanan, handphone dan pulsanya , mobil/motor, barang-barang elektronik, computer, kosmetik dan berbagai produk konsumer lainnya baik yang memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder bahkan tersier.


Produk apa saja seolah laku dijual di masyarakat yang rakus (voracious) untuk embeli dan membeli lagi. Lantas siapa yang akan unggul di masyarakat seperti ini? Mereka adalah orang yang dengan penuh semangat berapi-api untuk terus menghasilkan produk-produk unggulan di masyarakat tersebut (Impassioned Producer).


Mari sekarang kita lihat aplikasi tiga perubahan ini dari dua hari perjalanan saya di Solo dan Jogja tersebut di atas.


Di Solo saya ceramah dalam suatu seminar yang audience rata-rata adalah mahasiswa teknik industri. Dari diskusi saya dengan mereka – saya jumpai belum banyak perubahan dalam pola pikir mahasiswa sekarang dengan pola pikir mahasiswa tiga puluh tahun lalu – ketika saya menjadi mahasiswa. 


Rata-rata masih juga berorientasi mencari kerja, padahal jaman telah berubah – persaingan di lapangan kerja menjadi semakin sulit. Maka melalui ceramah tersebut saya mencoba mempengaruhi mereka agar berubah pola pikir-nya, bukan lagi mencari kerja tetapi membangun semangat untuk menciptakan lapangan kerjanya sendiri.


Di Solo pula  saya menemukan contoh nyata dari seorang yang merepresentasikan Serial Master dalam istilah Prof. Linda penulis buku tersebut di atas  –seorang dokter yang sangat terkenal dibidangnya dengan rumah sakitnya sendiri yang selalu penuh pasien, tetapi dia juga seorang pendidik yang sangat unggul – di bidang yang sama sekali berbeda dengan profesinya. 


Ma'had Tahfizhul Qur'an Isy Karima yang didirikan bersama dengan para ustad mitranya – menjadi tempat idola bagi para calon penghafal al-Qur’an yang juga unggul dalam ilmu pengetahuan alam.


Di Jogjakarta saya berdiskusi intensif sampai larut malam – seolah waktu tidak cukup - dengan puluhan pengusaha muda yang luar biasa kreatifnya. Mereka adalah para impassioned producer muda yang telah menghasilkan sejumlah produk-produk unggulan yang pasarnya sudah melanglang buana. 


Ada producer air terapi yang beromset milyaran Rupiah per minggu, ada producer kue-kue berbasis ketela 100% yang siap bersaing dengan kue dari terigu, ada producer burger jamur yang bervisi menduniakan species baru di dunia burger ini - dan berbagai produk kreatif lain yang tidak kalah unggulnya.


Lebih dari itu – bertemu dengan mereka ini hati menjadi sejuk, tidak ada nuansa persaingan di antara mereka. Mungkin ini juga sebagai hasil dari karya agung seorang Innovative Connector yang mampu menyatukan seluruh resources tersebut – menjadi sebuah kekuatan ekonomi umat yang insyaAllah akan banyak berpengaruh kedepan. 


Innovative Connector dari Jogja ini saya jumpai ada pada diri Mas Fani Rahman - seorang penerbit muda yang bermarkas di lingkungan Masjid Jogokariyan, melalui beliau inilah saya dipertemukan dengan kekuatan ekonomi umat masa depan tersebut di atas.


Bila Professor Lynda menteorikannya, sesungguhnya sebagian dari umat yang unggul di kita telah mulai melakukan perubahan-perubahan tersebut.


Dengan perubahan-perubahan ini, sungguh saya berharap apa yang dilakukan oleh H Samanhudi – yang hampir seabad lalu merintis perjalanan menuju kemerdekaan fisik Indonesia melalui  Sarekat Dagang Islam-nya, dapat diikuti oleh temen-temen pengusaha muda Jogjakarta yang kini mulai akrab bersinergi sata sama lain tersebut – yaitu merintis jalan menuju kemerdekaan ekonomi yang sangat dibutuhkan oleh umat saat ini. Amin.


Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

The Way We Were




|


Oleh: Muhaimin Iqbal   


TANGGALNYA adalah 29-30 April tahun 711 ketika pasukan Tariq bin Ziyad mendarat di Jabal Tariq (lebih dikenal dengan Gibraltar) yang kemudian mengawali sejarah panjang 781 tahun Islam berkuasa di (sebagian) Eropa (711-1492).

Inspirasi dari penaklukan mereka ini sudah pernah saya tulis di situs ini dalam judul “…Membakar Kapal…” , tetapi ada sisi lain yang nyaris tidak pernah diungkap dalam sejarah – yang justru dampaknya terbawa dalam kemajuan peradaban dunia hingga kini.

Sisi lain ini adalah logistik militer, kemajuan dibidang logistik militer yang dibawa oleh peradapan Islam di Eropa selama 781 tahun inilah  yang hingga kini dinikmati dunia barat khususnya Amerika dalam bentuk kemajuan industri pertanian dan peternakannya.
Mungkin Anda bertanya: “Kok bisa?, begitu jauh banget pengaruhnya …?.  Tetapi inilah sejarah itu.

Dalam setiap penaklukan, kedudukan logistik adalah vital untuk menentukan apakah suatu peperangan akan dilakukan atau tidak, bahkan sebelum suatu pasukan bergerak maju – bagian logistik ini sudah harus dipikirkan lebih dahulu. Diantara daftar kelas logistik yang sangat penting selain makanan, pakaian dan senjata adalah bahan bakar. Bayangkan apa jadinya bila bahan bakar ini tidak tersedia dengan cukup, maka tank-tank tidak bisa bergerak, pasukan tidak bisa patroli, pesawat tempur tidak bisa terbang dlsb. dlsb.

Itu peperangan di masa kini, tetapi bagaimana peperangan dilakukan di jamannya Tariq bin Ziyad?

Saat itu mobilitas pasukan di darat utamanya digerakkan dengan kuda, dan bahan bakar untuk kendaraan-kendaraan berupa kuda ini tidak lain adalah pakan ternak. Tanpa adanya ‘bahan bakar’ rerumputan yang bergizi tinggi kuda-kuda perang akan loyo, maka keunggulan pasukan di jaman itu juga ikut dipengaruhi oleh ketersediaan logistik berupa rumput bergizi tinggi ini.

Karena peperangan menjangkau daerah yang sangat luas dengan waktu yang sangat lama - dari puluhan tahun sampai ratusan tahun – maka logistik berupa rumput untuk ‘bahan bakar’ ini juga harus bisa dihasilkan di daerah-daerah yang strategis yang sudah dikuasai oleh pasukan Islam. Rumput yang ditanam-pun juga bukan sembarang rumput, bila yang ditanam rumput yang biasa-biasa – maka akan dibutuhkan areal yang sangat luas untuk menanamnya dan kuda perang-pun tidak bisa tumbuh perkasa.

Maka bagian logistik dari pasukan Islam saat itu sudah mengenal rerumputan bergizi tinggi yang sangat efektif untuk menumbuhkan kuda, tanaman bergizi tinggi inilah yang disebut alfalfa. Karena penguasaan Islam yang begitu lama khususnya di Spanyol, tentu kepandaian bercocok tanam alfalfa ini juga kemudian  menular ke bangsa Spanyol.

Ketika 800 tahun kemudian panglima perang Spanyol Hernando Cortez menaklukkan bangsa Aztecs di Mexico, bukan hanya strategi membakar kapalnya yang ia jiplak mentah-mentah dari strategi Tariq bin Ziyad – tetapi juga strategi membangun kekuatan logistik pasukan berkudanya dengan tanaman yang sama dengan yang diperkenalkan oleh peradaban Islam yang mendominasi negeri asalnya – Spanyol selama 781 tahun !.

Berawal dari peradaban Islam yang sudah maju lebih dahulu, kemudian dibawa ke Spanyol, kemudian dari Spanyol di bawa ke benua Amerika inilah nutritious plants (terjemahan al-Qur’an bahasa Inggris Yusuf Ali untuk “qadhban” QS: 80:28) yang oleh Prof. Dr. Zagloul Al Najjar di tafsirkan sebagai alfalfa ini masuk ke benua itu dan sangat maju terutamanya di Amerika Serikat hingga kini.

Dari mana kita bisa membuktikan bahwa alfalfa yang merupakan produk pertanian terbesar ke 3 di Amerika setelah jagung dan kedelai ini berasal dari dunia Islam?

Yang paling mudah adalah dari sisi bahasa! Karena peradaban Islam yang berkembang hampir 8 abad di Spanyol, maka banyak sekali kata atau nama-nama yang berasal dari Islam – termasuk diantaranya ya alfalfa ini.

Dalam bahasa Spanyol maupun dalam bahasa Inggris  hingga kini tidak ada kata lain yang searti  alfalfa, satu-satunya ya kata untuk nama tanaman bergizi tinggi (nutritious plants) yang dibawa dari dunia Islam 14 abad lalu itu.

Maka dari nama ini tidak bisa disangkal lagi bahwa kekuatan produk pertanian terbesar ke 3 di Amerika tersebut bisa di runut secara meyakinkan adalah berasal dari peradaban Islam di masa lampau.

Jadi dahulu kita pernah berjaya secara militer, ekonomi sampai ke pertanian dan peternakan – bahkan dua yang terakhir ini masih menyisakan ‘nama’-nya di benua lain hingga kini; maka bila kita sungguh-sungguh kembali ke tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits – insyaallah kitapun akan bisa mengembalikan kejayaan itu di masa-masa yang akan datang.

Yang kita perlukan sebenarnya hanyalah mencontoh, pertama dan yang utama tentu mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian para sahabat beliau dan kemudian juga generasi-generasi sesudahnya yang membawa kepada kejayaan Islam termasuk generasinya Tariq bin Ziyad tersebut di atas.

Kita tinggal mencontoh bagaimana umat ini melakukannya di masa lampau, the way we were…InsyaAllah !.


Bayangkan suasana batinnya ketika pada tahun 1492 Christopher Columbus memulai perjalannya menyeberangi Atlantic, saat itu ekspedisi dia ini disponsori oleh Ratu Isabella yang pada tahun tersebut baru saja berhasil menguasai Granada – wilayah Islam terakhir di tanah Spanyol.
Maka tidak heran bila  Columbus di awal catatan perjalanannya menulis “…Your Highnesses, as Catholic Christians, and princes who love and promote the holy Christian faith, and are enemies of the doctrine of Mahomet…”. 
Bayangkan pula  bila jauh-jauh berlayar dalam upaya menemukan benua baru, Columbus menemukan bahwa orang-orang Islam yang dibencinya ternyata lebih dahulu sampai ke benua tersebut?

Tentu dia tidak ingin membuat ratu Isabella yang mensponsorinya gusar dengan mengabarkan bahwa orang-orang Islam ternyata sudah lebih dahulu sampai di benua baru yang di klaim sebagai temuannya.
Maka temuan Columbus atas adanya Muslim di benua tersebut hanya muncul di catatan harian pribadinya saja, bahwa pada tanggal 21 October 1492 ketika mendekati Gibara di timur laut pantai Cuba dia melihat ada masjid di bukit yang indah.
Perlu diingat, bahwa sepanjang ratusan tahun budaya Islam sudah mendominasi Spanyol dan sebagian Eropa – jadi Columbus tahu persis apa yang disebutnya masjid itu – bukan sekedar bangunan yang mirip masjid – yang coba dibelokkan oleh para sejarawan barat.
Bahkan Columbus juga menyebut orang-orang Caribbean yang ditemuinya sebagai “Mohemmedans” – pengikut Muhammad  - lagi-lagi karena Columbus paham seperti apa pengikut Muhammad itu!

Tetapi begitulah, realita sejarah bisa dengan mudah tenggelam oleh kepentingan politik agama yang diberlakukan dengan ekstrim oleh Ratu Isabella yang mensponsori Columbus.
Sehingga untuk berabad-abad kemudian di klaim-lah oleh mereka ini bahwa merekalah yang menemukan benua baru Amerika – meskipun bukti-bukti sejarah kemudian mulai bermunculan dan klaim mereka mulai diragukan.

Di antara bukti-bukti sejarah ini diungkap oleh seorang Arkheolog dan ahli bahasa Hardvard University kelahiran New Zealand – DR. Barry Fell.  Beliau inilah yang mengungkapkan temuan adanya tulisan berupa text, diagram dan chart di batu yang dia temukan di Amerika bertuliskan huruf Arab kuffic. 
Batu yang dipahat untuk tujuan pembelajaran dibidang matematika, geography, sejarah, astronomi dan navigasi laut ini – diyakininya dibuat antara tahun 700-800 Masehi, sekitar abad ke 2 – 3 Hijriyah – atau sekitar 8 abad sebelum Columbus menginjakkan kakinya di benua baru yang diklaimnya.

Lantas apa kepentingannya kita belajar sejarah demikian? Begitu banyak ayat-ayat al-Qur’an yang isinya tentang sejarah maupun yang memerintahkan kita untuk belajar dari sejarah. Melaui sejarah – yang benar , yang tidak dibelokkan - inilah kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian umat ini di masa lampau dan juga kegagalan-kegagalannya.

Bila dahulu umat ini menjadi penemu daerah-daerah baru, ilmu-ilmu baru dari matematika, kedokteran, astronomi, pertanian, keuangan dan tidak terhitung banyaknya temuan lainnya;  maka sudah sepantasnya-lah umat yang hidup di jaman ini juga mencita-citakan pencapaian  yang sama. Lantas darimana kita akan memulainya?
Menurut saya tidak ada cara lain kecuali kita kembali ke sumber segala ilmu, “…petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk-petunjuk tersebut …” (QS: al-Baqarah: 185).

Untuk mengawali cita-cita besar tersebut, lebih dari sebulan lalu kami ‘mencangkok’ proses penyiapan generasi Qur’ani kedepan dengan Madrasah al-Qur’an Daarul Muttaqiin, insyaAllah besuk kami akan mulai lagi kelas baru yang kami sebut Madrasah al-Qur’an Lil-Inaats (Pesantren Putri).
Mereka inilah nantinya yang insyaAllah akan melahirkan generasi cucu-cucu kita yang akrab dengan Al-Qur’an (karena ibunya hafidzah yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an setiap saat) semenjak mereka di kandungan, ketika di buaian dan di usia-usia awal yang sangat penting dalam membentuk karakternya.

Dahulu kita berjaya dengan al-Qur’an, maka dengan kembali kepada al-Qur’an inilah insyaAllah kita akan berjaya kembali.InsyaAllah.


Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com dan Direktur Gerai  Dinar

Selasa, 27 September 2011

Politik Berakhlak, Bukanlah Utopia





 


Oleh: Ahmad Arif Ginting
 
SETAHUN ini, perpolitikan Indonesia menjadi pemandangan yang benar-benar menyebalkan, begitu istilah sebagian orang. 


Bagaimana tidak, yang kita tonton di TV, hanyalah kasus-kasus suap, korupsi, kolusi yang seolah-olah tiada habisnya.
Belum sempat kita melihat penyelesaian kasus Gayus Tambunan, Century, Rekenung Gendung Polri, tiba-tiba sudah datang lagi kasus baru, dugaan suap Nazaruddin Syamsuddin. Wajarlah, jika masyarakat di lapisan bawah punya kesan negatif tersendiri terhadap wajah politik kita.


Sebegitu burukkah wajah politik? Bagaimana Islam memandang hal ini?


Dalam al Qur-an memang tidak ditemukan kata siyasah secara harfiah, tetapi para penafsir awal seperti Mujahid ketika menafsirkan rabbaniyuun (QS. Ali Imran; 79) berkata: 


Mereka (rabbaniyun) itu lebih tinggi dari pendeta-pendeta (rahib), sebab pendeta-pendeta itu adalah ulama, sedangkan rabbaniyun adalah mereka yang memadukan kedalaman ilmu dan fiqh, pandangan siyasah dan pengaturan, penegakan urusan-urusan rakyat dan apa-apa yang memperbaiki mereka dalam kehidupan dunia dan agama mereka.” (Thabary III : 325).


Birahi Berkuasa


Harus diakui bahwa praktek politik di Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini dipenuhi oleh berbagai tingkah laku yang membawa hawa nafsunya sebagai tuhannya. Inilah yang kemudian membawa sejarah kepada fenomena bahwa kebanyakan gerakan politik pada akhirnya berujung pada pemenuhan birahi, libido dan nafsu untuk memiliki kekuasaan.


Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menegur gubernur Mesir karena ia akan  membebani mualaf dengan beban-beban yang tidak memiliki landasan dalam ajaran Islam. Khalifah mengatakan kepada gubernur tersebut: “Jelek sekali pemikiranmu! Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad untuk memberi petunjuk bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan !”


Cara-cara menggalang kekuatan politik diwarnai oleh kelicikan dan kekerasan sehingga fenomena pembunuhan terhadap pimpinan negara menjadi sangat biasa terjadi dalam panggung sejarah. Para penguasa berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara, sebaliknya para pencari kekuasaan juga berusaha merebut kekuasaan dengan segala cara. 


Di dunia politik biasa pula terdengar pula ungkapan “power tends to corrupt”, kekuasaan itu cenderung membuat manusia berlaku culas, curang, menghimpun kekayaan dengan melanggar berbagai aturan dan kesepakatan. Dalam pembahasan-pembahasan politik muncul pula istilah “machievelis” untuk menunjuk kepada politik dengan berbagai dimensi kekotorannya.


Akibat dari kesan besar ini tidak sedikit dari kita yang alergi politik, kemudian menjauhkan kehidupan politik seraya menatap rendah orang-orang yang terjun ke dalam dunia politik.


Jika seorang ulama terjun ke dunia politik seolah-olah ia telah menanggalkan keulamaannya dan bahkan ummatnya. Bahkan beberapa kelompok gerakan Islam mengharamkan seluruh aktivitas politik dan mereka cenderung mengkhususkan diri terjun ke dunia yang disebutnya sebagai dunia “sosial” atau hanya akan mengurusi dunia “dakwah (dalam pengertian yang sempit)” semata.


Menghindari politik, dalam berbagai maknanya, adalah sebuah kesalahan besar. Syeikh Musthafa Masyhur dengan tegas mengatakan: “Salah satu kewajiban kita adalah mengingatkan betapa besarnya dosa – terhadap Islam – yang diperbuat oleh sekelompok orang yang tampil dan bergerak di bidang da’wah, mengemukakan satu aspek saja dari Islam, dan melupakan aspek lainnya dengan sengaja atau tidak, karena kebodohannya terhadap karakteristik Islam atau karena mengelakkan tekanan dari pihak penguasa, atau memang mereka berniat jahat. 


Perbuatan semacam itu pada umumnya dilakukan oleh beberapa kelompok kaum muslimin yang telah menjadi boneka kuffar dan musuh-musuh Islam”.


Politik Berakhlak bukan Utopia


Tidak sedikit orang yang merasa pesimistik atau bahkan skeptis  bahwa akhlaq Islam dapat dioperasionalisasikan dalam dunia politik karena budaya politik yang berkembang telah sedemikian rupa buruknya. Mereka menyatakan bagaimanakah akhlaq politik Islam dapat diterapkan jika sistem yang mendasari politik dalam suatu negara saja sudah (dianggap) bertentangan dengan ajaran Islam, seperti sistem demokrasi yang berasal dari masyarakat Barat yang sekuler? 


Bagaimanakah akhlaq Islam akan dapat diwujudkan dalam politik apabila aturan-aturan mainnya saja ditentukan oleh mereka yang tidak menghargai bahkan memusuhi ajaran Islam?


Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, Dr. Hidayat Nur Wahid, mantan Ketua MPR RI periode 2004-2009 lalu, telah menguraikan empat jawaban yang mendasar. 


Pertama, Rasulullah SAW sendiri memulai dakwahnya dengan terjun dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Quraisy jahiliyah yang jelas-jelas segala aturannya tidak didasarkan pada nilai-nilai ajaran Allah SWT. 


Memang masih tertinggal beberapa ajaran dari Nabi Ibarahim di Makkah, tetapi telah terkontaminasi oleh ajaran jahiliyah bangsa Quraisy yang kembali menyembah berhala. Dalam fase Makkiyah yang berlangsung selama dua belas tahun Rasulullah SAW dapat menunjukkan citra dirinya sebagai seorang muslim sehingga, meskipun terdapat permusuhan yang keras, orang-orang kafir Quraisy tetap menghargai dan mengakui kepribadian beliau yang baik.


Kedua, pada kenyataannya politik Islam sepanjang sejarah telah berlangsung sebagian besarnya dalam kondisi yang tidak ideal, kecuali hanya pada masa Rasulullah SAW dan khalifah yang empat. Sisanya kehidupan masyarakat Islam telah mengalami pergeseran sedikit demi sedikit, mulai dari bangkitnya bentuk monarki dalam negara khilafah sampai hancurnya khilafah Abbasiyah dan negeri-negeri muslim hidup dalam gejolak tekanan kaum Mongol. 


 Idealitas sebuah bangunan negara dan masyarakat Islam juga tidak terwujud dalam khilafah Utsmaniyah yang berlangsung selama tujuh abad.  Namun demikian bukan berarti kaum muslimin secara sempurna tidak dapat berinteraksi dengan keadaan tersebut dengan akhlaq Islaminya.


Khalifah Umar bin Abdul Aziz diakui sebagai pemimpin yang memiliki akhlaq yang tinggi di tengah kerajaannya yang bergitu besar. Bahkan para ulama mazhab yang besar, rata-rata hidup dalam zaman tersebut tidak sedikit yang berpartisipasi dalam pemerintahan.


Ketiga, pada masa Rasulullah SAW pun terdapat beberapa gelintir orang yang tidak mau dan tidak mampu mengaplikasikan akhlaq Islam dalam kehidupan politiknya terutama orang-orang munafiq yang hatinya telah sakit. Beberapa orang telah lalai menjalankan politik Islam karena tidak mampu membendung nafsu dirinya, meskipun kemudian ia menyadarinya dan menyesalinya.


Contoh, kasus salah seorang sahabat (Usamah) yang membunuh seorang dari kelompok musuh padahal ketika sebelum terbunuh ia membaca dua kalimah syahadah sebagai pengakuannya kepada Islam. Usamah kemudian menyesali perbuatannya itu setelah ia mendapat teguran yang keras dari Rasulullah SAW. 


Jadi, tergelincirnya seorang muslim dari nilai-nilai Islam dalam aktivitas berpolitiknya mungkin saja terjadi, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Tetapi hal ini bukan sebuah cerminan bahwa  operasionalisasi akhlaq Islam dalam politik adalah sebuah hal yang utopis.


Keempat, tidak semua sistem yang berasal dari luar Islam sama persis dalam keburukan maupun kekotorannya, sehingga dalam batas-batas tertentu tetap memungkinkan kaum muslimin berinteraksi di dalamnya tanpa menanggalkan akhlaq Islam. 


Dalam kaitan ini ada sementara pihak yang bertindak kurang seksama dan berlaku apriori terhadap sistem demokrasi. Mereka menuduh jika ada kelompok masyarakat  muslim melakukan pemilihan untuk jabatan-jabatan tertentu, maka mereka menyatakan bahwa kelompok masyarakat muslim itu telah keracunan demokrasi. 


Padahal prinsip pemilihan itu sendiri telah menjadi sebuah paradigma dalam kehidupan politik kaum muslimin jauh sebelum sistem deokrasi modern ini dikembangkan.
Syeikh Yusuf Qaradhawi juga pernah menyatakan: 


“Tidak ada salahnya kita mengadopsi berbagai metode dan mekanisme yang cocok dengan kita.  Kita berhak melakukan perubahan dan penyesuaian. Namun kita tidak akan mengadopsi falsafahnya yang mungkin saja menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal atau menggugurkan yang wajib.”


Lebih jauh Al Qaradhawi menjelaskan, “Al Qur’an telah mengungkap persekongkolan jahat tiga jenis manusia jahat dengan tipe masing-masing agar kita bisa mengantisipasinya dan tidak terperangkap dalam jebarak mereka. 


Pertama, penguasa yang berlagak sebagai tuhan dan bertindak sewenang-wenang di bumi Allah serta menindas hamba-hambaNya. Ini diperankan oleh Fir’aun. 


Kedua, politikus opurtunis yang mempergunakan kepandaian dan kecerdasannya untuk mengabdi kepada penguasa tiran dan mengukuhkan kekuasaannya serta menindas rakyat untuk tunduk kepadanya. Hal ini diperankan oleh Hamam. 


Ketiga, konglomerat atau kapitalis yang memanfaatkan kekuasaan tiran dengan mendukung dan menyuplai dana segar agar dapat memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya dari keringat dan darah rakyat. Ini diperankan oleh Qarun. (Fatawi Mu’ashirah, jld. 2; 1988)


Dalam sebuah bangsa yang keran demokrasinya mulai dibuka dan perubahan menjadi sebuah keniscayaan politik, tampaknya interaksi gerakan Islam dengan politik formal dapat dimungkinkan dengan sebuah keyakinan bahwa akhlaq politik Islam dapat dioperasionalisasikan. Keberhasilan operasionalisasi akhlaq Islam tersebut memang sangat tergantung pada komitmen seseorang atau komunitas gerakan Islam terhadap nilai-nilai yang menjadi visi dan misinya.


Sebagian atau mungkin juga sebagian besar dari mereka mungkin saja menyimpang tingkah laku politiknya sebagaimana kasus-kasus penyimpangan pada beberapa muslimin juga terjadi pada masa Rasulullah SAW.


Harus diakui pula bahwa lingkungan politik yang merupakan kenyataan pada saat ini masih jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri sehingga lebih mendorong para politikus untuk berbuat hal-hal yang tidak diridlai Allah SWT. 


Namun, sekali lagi, kondisi itu tidak bisa menjadi pembenar bahwa operasionalisasi akhlaq Islam dalam politik adalah sebuah hal yang utopis. Wallahu a’lam.


Penulis adalah mantan pengurus pusat IMAPA (Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh) Jakarta, berkhidmah di Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh

Antara “Postmodern” dan Aurat Wanita







Oleh: Kholili Hasib


PADA hari ahad (18/09/2011), anggota Perkumpulan Pembela Hak Perempuan mengadakan aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk  memprotes pernyataan Gubernur DKI, Fauzie Bowo, tentang himbauan tidak memakain rok mini bagi perempuan.


Pernyataan Fauzie Bowo (Foke)  itu dilatarbelakangi terjadinya kasus pemerkosaan di angkot beberapa hari lalu. Ia menghimbau agar penumpang wanita tidak menggunakan pakaian mini saat berada di angkutan umum agar tidak mengundang reaksi negatif.


Pernyataan tersebut mengundang reaksi keras kaum liberal dan feminisme.  Aktivis pro feminisme meyakini bahwa pakaian minim adalah hak asasi perempuan.  Sehingga mereka tidak terima jika pakaian minim dikaitkan dengan penyebab pelecehan terhadap wanita


"Buat saya, memandang masalah pakaian melulu dari moral dress code (kode berpakaian) agama, itu terlalu sempit. Karena kemajuan masyarakat modern itu tercermin dalam keragaman cara berpakaian terutama di kalangan perempuan," katanya. (hidayatullah.com 22/09).


Pernyataan-pernyataan Ulil dan aktivis Perkumpulan Pembela Hak Perempuan tersebut menunjukkan mereka penganut paham yang disebut “Postmodern”. Disebut  postmodern sebab filsafat postmodern dijadikan sebagai ‘akidah’-nya.


Prinsip Curiga


Islam model postmodern (posmo) ini diusung oleh pemikir Liberal asal Aljazair, Mohammed Arkoun. Penganutnya dapat disebut “Moslem Postmodernism”.  Ciri khas Islam model itu adalah; kesetaraan, humanis-sekular, dualisme, anti otoritas, hukum Islam relative, anti universalisme, menolak pengetahuan non-empiris dan pluralisme.


Model-model begitu sesungguhnya telah lama bercokol di Barat. Akan tetapi dalam dunia Islam, model Islam itu mencuat setelah muncul gerakan Liberalisasi di dunia Arab.
Islam model postmo ini dikenalkan oleh Mohammed Arkoun pada sekitar tahun tujuh puluhan. Arkoun termasuk pengagum berat filsafat postmodern. Dibanding dengan tokoh liberal lainnya, ia sangat gandrung dengan epistemologi  postmo.


Studi Islamnya dinamakan Islamologi Terapan (al-Islamiyyat al-Tathbiqiyyah). Dan ciri utamanya menggunakan metode dekonstruksi. Yakni  dekonstruksi teologi dan dekonstruksi syari’ah.


Dalam islamologi terapan, konsep totalitas dan universalime Islam dihapus. Hak dan batil dirobohkan. Tidak ada hukum yang pasti. ‘Syari’ahnya’ adalah humanisme. Hukum Tuhan didiskualifikasi. Humanisme-sekuler diangkat menjadi otoritas penentu nilai.


Asumsinya, ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an mengandung mitos, sebagaimana kitab Injil kaya dengan mitologi. Di samping itu, hukum-hukum fikih dan tafsir dinilai bias ideologis dan politis.


Maka dari itu, “postmodern” menolak kemapanan hukum. Semua hukum Islam seolah berkepentingan menindas kaum minoritas dan lemah.


Kecurigaan berlebihan kepada mayoritas dan kaum lelaki adalah ciri khas lainnya.


Perasaan itu bersumber dari epistemologi filsafat postmodern, yaitu dekonstruksi oposisi binner. Oposisi binner, mulanya terapan linguistik strukturalis, ditolak dengan alasan memelihara konsep totalitas dan keberpihakan kepada kaum mayoritas atau pihak yang dianggap kuat.


Beginilah jika epistemologi yang diterapkan salah alamat alias salah sasaran. Linguistik post-struktrualis oleh para filsuf mulanya diterapkan dalam bidang sastra dan seni.


Linguistik post-struktrualis itu lantas oleh para cendekiawan liberal diterapkan ke dalam agama. Akibatnya, agama layaknya fenomena bahasa. Tidak ada kaitan dengan hal-hal non-empiris. Berubah-ubah, seperti halnya ejaan bahasa yang bisa berubah.


Konsep oposisi binner tersebut dianggap menimbulkan pemikiran yang berpotensi untuk menguasai. Oleh sebab itu, semua harus dibongkar (didekonstruksi) oleh mereka.
Dalam urusan pakaian, misalnya, hukum pernikahan dan hal-hal terkait lainnya, kecurigaannya selalu dialamatkan kepada lelaki.



Jika aurat lelaki lebih terbuka kenapa wanita tidak terbukan seperti laki-laki, begitu istilah mereka. Jika lelaki bebas keluar kenapa wanita dibatasi harus didampingi mahram.
Logika-logika ini adalah sesungguhnya logika kaum postmodern. Di mana pandangan hidupnya sama sekali tidak terkait dengan Tuhan. Tuhan dalam pikiran manusia dalam bahasa John Hick adalah ‘the real phenomenon’, tidak absolut.


Muhammad Syahrour, pemikir Liberal Arab lainnya asal Suriah, adalah pengusung aliran postmo yang paling getol mendekonstruksi konsep aurat wanita. Bahkan dalam teori batas minimal (nadzariyyat hudud) mengatakan bahwa batas minimal aurat wanita yang wajib ditutup adalah payudara, ketiak dan dubur-qubul saja.


Karena teologi didiskualifikasi dalam fikih, dibuang dalam epistemologi, maka “postmodern” justru jatuh kepada eksklusivisme.


Eksklusivisme itu muncul karena perjalanan akidah postmodernisme selalu berdiri secara konfrontatif dengan akidah dan hukum Islam. Kemunculannya memang sangat mencurigai doktrin agama. Kecurigaan berlebihan ini menimbulkan reaksi radikal.


Maka, ketika para pengikut ‘madzhab’ postmodern ini membela diri, mereka selalu bertindak radikal atau mengeluarkan pernyataan yang menukik agama. Dalam demo menolak himbauan memakai pakaian sopan beberap waktu lalu, aktifis Perkumpulan Pembela Hak Perempuan justru menunjukkan pakaian-pakaian minim bahkan ada yang berlebihan minimnya. Meneriakkan yel-yel menyalahkan laki-laki.


Ulil pun bersuara, ia menyebut pihak yang membela aurat muslimah diksebut kaum konservatif. Mirip komentar pengusung Postmodern, Mohammad Arkoun, yang menyebut kaum ortodok  tradisionali untuk mereka yang mengusung kebenaran universal dan ketetapan hukum Islam.


Karena menolak kemapanan itu, sesungguhnya tidak ada kepastian yang diperjuangkan pengusung postmodernisme tersebut. Epistemologinya hanya mencapai tataran syakk dan spekulatif. Jika yang disebut itu liberal saat ini, maka sesungguhnya mereka bukan lagi penganut modernisme tapi postmodernisme.


Oleh sebab itu, bagaimana mungkin mengamalkan pengetahuan agama yang masih dalam tataran tidak pasti.  Akan tetapi pengusung Postmodernisme tidak mempersoalkan pengetahuan agama yang tidak pasti itu, baginya kehancuran agama bukan problem, sebab semangatnya adalah humanisme-sekular.


Adalah wajar jika Ulil dan para pembela rok mini tidak mempermasalahkan aurat. Sebatas minim apapun bagi mereka bukan problem sosial. Karena memang sudah mendiskualifikasi norma hukum dalam pandangan hidup mereka. Maka dari itu, problem sosial sesungguhnya dipicu oleh ‘madzhab’ postmodern ini, sebab mereka ini adalah kelompok-kelompok yang sesungguhnya  anti kemapanan.*
Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Istitut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo

Demi Keamanan dan Kehormatan, Tutuplah Aurat




 


BEBERAPA waktu lalu, warga Jakarta dikejutkan oleh munculnya berita kasus pemerkosaan di sebuah angkutan umum. Peristiwa tersebut telah menyita perhatian publik, bahkan beberapa media memuatnya sebagai head line yang cukup menarik perhatian.


Silang pendapat pun tak terhindarkan. Masalah pemerkosaan bergeser pada masalah busana atau pakaian. Sebagian publik figur menilai bahwa memang sudah seharusnya kaum hawa menjaga diri dengan berpakaian syar’i. Namun sebagian yang lain bersikukuh untuk tetap menolak.
Aktivis perempuan pendukung rok mini misalnya, mereka menolak pihak yang menilai pakaian wanita sebagai pemicu tindak pemerkosaan.
“Jangan salahkan rok mini kami,” kilah mereka dalam demo yang mereka lakukan beberapa waktu lalu di bundaran HI, Jakarta.
Terlepas dari silang pendapat yang terjadi di masyarakat, sebagai seorang Muslimah sudah barang tentu kita ingin selamat dari bahaya dan tentunya ancaman siksa dari Allah SWT.
Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan membela para pemerkosa. Bagaimanapun, perilaku ini dilarang dan mendapat hukuman setimpal dalam Islam.
Namun, jauh akan lebih bermanfaat jika kaum Muslimah menjadikan kasus tersebut sebagai media introspeksi diri agar terhindar dari bahaya serupa. Pesan ini hanya untuk para Muslimah, bukan untuk yang beragama lain.
Sebagai ajaran universal, Islam sejak awal telah memberikan perhatian serius terhadap masalah busana. Seorang muslimah sungguh tidak dibolehkan (haram) membuka aurat mereka di depan umum atau terhadap laki-laki yang bukan muhrimnya. Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (QS: Al-Ahzab: 59)
Ayat tentang hijab di atas, secara redaksional ditujukan kepada Nabi, namun demikian esensi dari ayat tersebut berlaku bagi seluruh wanita yang beragama Islam (Muslimah).
Ditinjau secara historis, perintah menutup aurat ini sama sekali tidak seperti anggapan aktivis liberal yang suka memutar balik esensi ajaran Islam. Juga tidak seperti tuduhan mereka yang menilai bahwa jilbab dimaksudkan untuk membatasi ruang gerak para wanita.

Akan tetapi perintah tersebut hadir lebih karena adanya upaya serius untuk melindungi jiwa raga muslimah dari beragam gangguan dan bahaya yang bisa merenggut kesucian atau kehormatannya.
Prof. Dr. Muhammad Chirzin, menegaskan dalam karyanya “Buku Pintar Asbabun Nuzul” bahwa perintah berjilbab pada para muslimah, pada hakikatnya lebih dikarenakan menjaga kesucian dan kehormatan mereka dari berbagai macam ancaman dan berbagai macam gangguan kejahatan. Sebagaimana kaum Muslimah di zaman Nabi yang selalu rentan diganggu oleh kaum munafik dan Yahudi.
Dalam sejarah, jilbab terbukti efektif melindungi kaum hawa dari berbagai macam gangguan dan kejahatan laki-laki tak berkahlak.
Kehormatan Muslimah
Sejak ayat ini turun, kaum hawa pada masa Rasulullah sepenuhnya terjaga kehormatannya. Pernah suatu ada seorang Muslimah diganggu oleh orang Yahudi, maka sesaat kemudian rasulullah saw pun mengintruksikan perang terhadap Bani Qainuqa, yang telah mengganggu keamanan dan kenyamanan wanita yang beriman.
Peristiwanya bermula ketika seorang Muslimah mendatangi kios emas di pasar Bani Qainuqa untuk suatu keperluan. Ketika tiba di kios, Muslimah itu melihat beberapa orang Yahudi. Sesaat kemudian, orang Yahudi itu mulai menggoda dan melecehkan Muslimah tadi. Bahkan Yahudi itu berani memaksanya untuk menampakkan wajahnya. Dan, Muslimah tadi menolak.
Sampai-sampai mereka berani melakukan sesuatu yang mempermalukan Muslimah itu. Secara diam-diam, tukang emas pemilik kios mengikatkan ujung kain Muslimah itu pada sebuah bangku atau pada bagian punggung pakainnya tanpa sepengetahuannya, hingga ketika Muslimah itu berdiri, tersingkaplah aurat wanita ini. Merekapun tertawa terbahak-bahak dan mencemooh. Seketika Muslimah itu berteriak sekeras-kerasnya dan meminta pertolongan.
Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah saw, maka saat itu juga perintah perang melawan Yahudi Bani Qainuqa menjadi satu keputusan tegas beliau.
Hal ini cukup menjadi bukti bahwa jilbab itu penting baik bagi keselamatan diri, maupun kehormatan agama Islam. Oleh karena itu, sebagai Muslimah, tidak sepatutnya mengenakan busana yang tidak diajarkan oleh Islam dan dicontohkan oleh istri-istri beliau.
Keuntungan Berjilbab
Sebagai orang beriman, menurut aurat (berjilbab, red) tentu suatu keharusan. Namun ajaran Islam tak pernah memerintahkan sesuatu yang tak jelas manfaat dan alasannya. Demikian pula halnya dengan larangan.
Menurut aurat bagi Muslimah adalah perintah Allah dan rasul-Nya. Jika demikian pasti ada manfaat besar di balik perintah tersebut. Baik manfaat cepat di dunia dan pasti manfaat yang lebih besar lagi kelak di akhirat.
Wanita yang berjilbab insya Allah akan terhindar dari gangguan dan kejahatan pria tidak berakhlak. Lebih mudah beraktivitas di luar rumah, khususnya bagi Muslimah yang memiliki bayi yang masih minum ASI. Dengan berjilbab tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena bayi dapat minum ASI tanpa sang ibu malu karena terbuka auratnya.
Jilbab juga melindungi rambut dan kulit kepala dari sengatan terik mentari tatkala berada di area terbuka. Bahkan kulit pun akan tetap terjaga keasliannya, karena tidak terkena debu dan panas.
Secara psikis, jilbab juga akan memberikan self control yang baik. Jadi wanita lebih terpelihara ucapan dan perilakunya, sehingga terhindar dari keburukan akhlak. Oleh karena itu, secara otomatis jika para pengguna jilbab mengerti hakikat dasar jilbab, tentu mereka akan sangat disegani dan dihormati oleh siapapun juga.
Oleh karena itu, hendaknya para Muslimah dimanapun berada untuk bersegera menunaikan perintah Allah dan rasul-Nya dalam hal berbusana. Jangan terprovokasi oleh sebuah ungkapan yang menyatakan, ”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik daripada berjilbab tapi hatinya busuk.” Ungkapan tersebut adalah ungkapan yang tidak bertanggung jawab dan disampaikan orang yang mengerti agama secara baik.
Ingatlah,  hati yang baik adalah hati yang kaya akan nutrisi iman. Dan, tidak mungkin seorang Muslimah yang mengaku beriman akan mengabaikan perintah Allah dan rasul-Nya.
Allah memerintahkan wanita menutup aurat, semata-mata agar terjaga jiwa raganya. 
Ancaman pembuka aurat

Bagi wanita yang mengaku beriman, tetapi masih bersikeras tidak mau menutup aurat,  sungguh ia telah merugi. Selain di dunia mereka hidup kurang terhormat, di akhirat mereka akan diminta pertanggungan jawab.
Rasulullah saw bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian, namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Sungguh ironis, jika kelak mencium bau surga saja kita tidak bisa.
Hadits di atas menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya.
Maka dari itu, bersegeralah menurut aurat. Jangan sampai karena lalai terhadap cara berbusana, di akhirat pun, kita menjadi wanita yang mendapat azab keras dari Allah SWT. Na’udzubillahi min dzalik.*/Imam Nawawi

Red: Cholis Akbar


Zionis, Obama dan Cerita tentang Palestina



 
Oleh: Jusman Dalle
JANTUNG kami serasa berdegup dua kali lebih gencar, lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi bunyinya Allahu Akbar, dan bebaskan Palestina. Ketika pabrik tak bernama memproduksi dusta seribu ton sepekan banyaknya, menebarkan ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara membangkangi resolusi resolusi majelis terhormat di dunia, Palestina bagaimana bisa aku melupaknmu.
Tanahku jauh bila diukur kilometer beribu-ribu, tapi adzan Masjidil Aqsa yang merdu serasa terngiang di telingaku. Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan buldozer dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu berdarah.
Derita Terekam Sejarah
Demikian kutipan puisi dari sastrawan ideologis Indonesia, Taufik Ismail yang menggambarkan resahnya jiwa kemanusiaan menyaksikan penjajah pongah mengangkangi bumi tempat berdirinya kiblat pertama umat Islam. Al Aqsa, Palestina.
Derita terekam sejarah. Air mata, darah dan nyawa menjadi prasasti dan saksi pada Rabbul Izzati akan keteguhan menjaga karunia-Nya di bumi jihad. Jalan Palestina tidak semulus Indonesia ketika pada tahun 1945 merdeka atas bantuan sekutu yang belakangan kita ketahui membawa misi penjajahan baru setelah Indonesia merdeka dari penjajah lama. Menancapkan kapitalisme yang masih menggerogoti negara hingga kini.
Palestina, karena melawan anak emas sang adi kuasa (yang sedang sempoyongan) negara Zionis Yahudi, harus berjuang sendiri ditengah berbagai sanksi blokade. Tapi jiwa perlawanan yang telah berkobar seolah tak pernah padam. Ruh jihad menjadi energi ketika mereka harus berpuasa hari demi hari karena terbatasnya logistik. Batu pun harus menghadapi tank-tank super canggih.
Sekali lagi, ini demi harga diri. Pantang bertekuk dihadapan penjajah. Apalagi menjilati boot-boot yang membungkus kaki angkuh generasi yang pernah dikutuk menjadi kera. Anak-anak Palestina hidup, tumbuh dan memahami kehidupan dengan irama perlamawanan. Genarasi baja yang gagah perkasa dihadapan senapan mesin kaum penjajah.
Derita perang tahun 1948, tahun 1967, hingga yang paling akhir ketika Zionis Israel menyerang Gaza pada Desember 2008 - Januari 2009, tak membuat bangsa Palestina patah arang. Apalagi menyerah. Palestine will not go down, begitu Michael Heart mengobarkan lantunan kemanusiaan yang menggema ke penjuru dunia dan menggelorakan semangat jihad untuk Palestina merdeka.
Babak Baru
Kini, Palestina memasuki babak baru perjuangannya. Palestina secara resmi telah mengajukan permohonan bersejarah kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menjadikan negara Palestina sebagai anggota resmi lembaga itu. Proposal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas Jum’at (23/9) di depan sidang Majelis Umum PBB. Permohonan keanggotaan penuh di PBB, jika dterima berarti bahwa Palestina memiliki hak sebagaimana negara lain yang merdeka.
Upaya ini datang di tengah penolakan Israel dan Amerika Serikat (AS). AS, melalui Presiden Barack Husein Obama bahkan telah berjanji akan memveto proposal Palestina merdeka tersebut. Hal itu merupakan ancaman serius. Jikapun proposal tersebut disetujui oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon, maka Dewan Keamanan (DK) PBB akan mengkaji dan kemudian melakukan pemungutan suara untuk mencapai keputusan.
Berdasarkan resolusi DK PBB, untuk mendapat persetujuan dibutuhkan 9 dari 15 anggota dewan, dengan syarat tidak ada veto dari anggota tetap DK PBB. Kita ketahui bahwa anggota tetap DK PBB adalah AS, Cina, Perancis, Rusia, dan Britania Raya. Sedangkan sepuluh anggota tidak tetap DK PBB adalah, Bosnia Herzegovina, Brazil, Kolombia, Gabon, Jepang, Jerman, India, Lebanon, Nigeria, Portugal dan Afrika.
Palestina tak perlu terlalu risau, saat ini sekitar 124 negara dari 193 negara anggota PBB secara resmi telah mendeklarasikan pengakuan mereka terhadap negara Palestina serta menyatakan mendukung langkah Palestina untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka dan menjadi anggota penuh PBB (KNRP, 28/08/2011).
Enam anggota DK telah memberikan dukungan mereka kepada Palestina, yakni China, Brasil, India, Lebanon, Rusia, dan Afrika Selatan. Anggota lain yang belum mengungkapkan dukungan mereka mencakup Bosnia Herzegovina, Inggris, Perancis, Jerman, Gabon, Nigeria, dan Portugal. Kolombia telah mengatakan bahwa mereka akan abstain. Namun melihat kecendrungan politik domestik di beberapa negara yang belum mengambil keputusan, mayoritas masyarakat mereka mendukung Palsetina Merdeka.
Secara mengejutkan, hasil survei yang dilakukan oleh YouGov atas nama Avaaz, sebuah organisasi kampanye global, menunjukkan bahwa 59 persen rakyat Inggris, 69 persen rakyat Prancis, dan 71 persen rakyat Jerman menginginkan agar pemerintah mereka mendukung pengesahan proposal pembentukan negara merdeka Palestina di Majelis Umum PBB. Dalam jajak pendapat itu, dukungan atas hak Palestina untuk memiliki negara sendiri tanpa mengacu pada suara di PBB bahkan lebih tinggi, yakni 71 persen di Inggris, 82 persen di Prancis, dan 86 persen di Jerman (Republika, 13/9/2011).
Saat ini permasalahan krusial soal kemerdekaan palestina ada pada ancaman AS untuk memveto. Namun, dari kenyataan politik AS saat ini sebenarnya Obama juga sedang dilematis. Antara menuruti tekanan lobi politik Zionis Israel atau tekanan dari lawan politiknya serta dari negara-negara di dunia, khususnya negara-negara yang selama ini memiliki kemitraan dengan AS. Sepeti Arab Saudi, Turki, dan Mesir. Tiga negara ini telah secara terbuka menyatakan mendukung, bahkan secara proaktif untuk kemerdekaan Palestina.
Perubahan peta politik di Timur Tengah pasca revolusi enam bulan terakhir, semakin memojokkan posisi AS dan Israel. Dimana pengaruh kedua negara ini semakin melemah. Perubahan secara signifikan setelah anak emas AS di Mesir, Housni Mubarak digulingkan oleh gerakan revolusi. Selama ini Mesir turut berkontribusi atas berbagai krisis di Palestina. Utamanya akses ke negara tersebut yang diperketat atas tekanan Zionis Israel. Namun kini Mesir berubah seiring tumbangnya sang diktator. Pemerintah baru, atas desakan masyarakat secara penuh mendukung kemerdekaan Palestina.
Sementara itu di dalam negeri, Obama dirongrong kubu oposisi, Partai Republik. Gubernur Texas Rick Perry mengatakan: ''Kebijakan Obama terkait persamaan moral, dengan kesetaraan bagi Israel dan Palestina, termasuk pelaku orkestra terorisme, ini adalah penghinaan berbahaya.'' (tribunnews.com 1/9/2011). Serangan oposisi tersebut tentu memperburuk posisi Obama di tengah berbagai problem dalam negeri AS. Seperti krisis ekonomi dan pengangguran. Partai Republik menguasai mayoritas parlemen AS.
Tarik menarik kepentingan politik saat pembahasan anggaran, khususnya pemotongan anggaran utang beberapa waktu lalu menjadi gambaran kuatnya tekanan politik yang dialami Obama yang berimplikasi pada popularitasnya di mata para voters. Para pemimpin Partai Republik antara lain bertekad untuk memotong anggaran sebesar US$100 miliar, mencabut kebijakan yang menutup lapangan kerja, dan mengkaji ulang peraturan perpajakan, maupun memotong dana diplomatik dan bantuan luar negeri.akhirnya Obama kelihatan tak mampu mengatasi problem ekonomi, pengangguran yang membuat kehidupan rakyat AS terancam.
Jika saja Obama mau jujur dan tidak menjilat kembali ludahnya, tentu dia akan melaksanakan apa yang pernah dipidatokan di Mesir pada Juni 2009 yang lalu tentang dukungannya terhadap Palestina merdeka. Bahkan pidato itu secara mengejutkan kembali diulangi pada forum Majelis Umum PBB tahun 2010 PBB “ 'saat kita kembali di tahun depan, kita dapat menyepakati masuknya anggota baru PBB, yaitu Palestina Merdeka' kata Obama.
Berbaliknya Obama tidak mendukung kemerdekaan Palestina, menjadi tanda tanya besar. Apa yang terjadi di dalam politik AS? Apakah lobi-lobi Yahudi berhasil menjanjikan sesuatu untuk melanggengkan kekuasan Obama menghadapi Pemilu Presiden pada 2012 nanti? Makin nampak jika Obama memang dilema.
Realits ini juga menguak betapa kuatnya pengaruh Zionis Israel di AS. Presiden AS yang katanya adi daya itu, pun harus tunduk. AS menjadi perpanjangan tangan Zionis Yahudi untuk melanggengkan segala kepentingannya.
Namun kita tetap harus yakin, bahwa masa penjajahan itu akan berakhir dengan izin Allah SWT. Apakah dengan semakin terpuruknya ekonomi AS dan sekutu-sekutunya yang diikuti oleh keterpurukan kepercayaan dan pengaruh pada dunia internasional, atau dengan lahirnya pemimpin dari dunia Islam yang secara berani melakukan konfrontasi militer dengan Zionis Israel.
Tentang kondisi AS dan Obama saat ini, ada benarnya apa yang dikatakan oleh mantan Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Alon Liel, ketika berdemonstrasi mendukung proposal Palestina Merdeka “Kalian memang diserang Obama, tetapi dia tidak lagi menguasai dunia, masih ada dukungan dari komunitas internasional. Lupakan Dewan Keamanan PBB, langsung ke Majelis Umum dan raih dukungan 150 negara (anggota PBB),". Wallahu’alam

Penulis adalah Analis Ekonomi Politik Society Research and Humanity Development (SERUM) Institute dan Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Blog : www.jusman-dalle.blogspot.com

Template by:
Free Blog Templates